Jumat, 13 November 2015

KONSEP DAN PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DI INDONESIA DAN MANCANEGARA



KONSEP DAN PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN DI INDONESIA DAN MANCANEGARA

Kewirausahaan di Indonesia boleh dikatakan belum berkembang. Berdasarkan hasil penelitian seorang ilmuwan Amerika Serikat (AS), David McClelland, suatu negara dapat dikatakan makmur, minimal harus memiliki jumlah wirausahawan sebanyak dua persen dari jumlah populasi penduduknya. Sedangkan jumlah wirausahawan di Indonesia hanya 0,18% nya. Sepertinya masyarakat di Indonesia masih belum bisa melepaskan corak agrarisnya dan enggan berinovasi untuk menciptakan lapangan kerja.
Makalah ini ditulis dengan tujuan membuka mata masyarakat Indonesia terutama kaula muda untuk berwirausaha karena adanya jumlah wirausahawan yang ideal dan memiliki pengabdian kepada negaranya merupakan salah satu komponen agar Indonesia bisa menjadi negara yang makmur dan sejahtera serta mampu bertahan dan bersaing dengan negara-negara lain.

A. Pengertian Kewirausahaan
            Telah kita ketahui bersama bahwa pemerintah sampai saat ini masih sangat terbatas dalam penyediaan lapangan kerja baru. Potensi penunjang pembangunan bangsa masih terbuka lebar asalkan para wirausahawan mampu menciptakan dan membuka lapangan kerja baru menjadi pelopor pembangunan.
            Mengingat perannya sangat penting, pemerintah telah mengeluarkan itruksi presiden No. 4 tahun 1995 untuk menumbuhkan semangat kepeloporan dikalangan generasi muda agar mampu menjadi wirausahawan. Dalam lampirannya tentang Gerakan Nasional Memasyarakatkan dan Membudayakan Kewirausahaan (GNMMK) kewirausahaan adalah :semangat, sikap, perilaku, dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha atau kegiatan yang mengarah pada upaya cara kerja, teknologi dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang lebih baik dan keuntungan yang lebih besar.
      Berikut ini diuraikan pengertian Kewirausahaan dan Wirausaha :
§      Kewirausahaan adalah suatu proses penerapan kreativitas dan inovasi dalam memecahkan persoalan dan menemukan peluang untuk memperbaiki kehidupan (ZIMMERER, 1996)
§      Kewirausahaan adalah mental dan sikap jiwa yang selalu aktif berusaha meningkatkan hasil karyanya dalam arti meningkatkan penghasilan
§      Kewirausahaan adalah suatu proses seseorang guna mengejar peluang-peluang memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui inovasi, tanpa memperhatikan sumberdaya yang mereka kendalikan (ROBEN, 1996)
§      Kewirausahaan adalah suatu sikap, jiwa dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru yang sangat bernilai dan berguna bagi dirinya dan orang lain
Sedangkan Wirausaha adalah :
Seseorang yang bebas dan memiliki kemampuan untuk hidup mandiri dalam menjalankan kegiatan usahanya atau bisnisnya atau hidupnya. Ia bebas merancang, menentukan, mengelola, mengendalikan semua usahanya.
Pentingnya Pengembangan Kewirausahaan dan Pendidikan Kewirausahaan bagi Bangsa Indonesia
Melihat pengertian dan teori kewirausahaan dikaitkan dengan keadaan dan masalah yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini dan saat-saat mendatang dalam rangka mensukseskan tujuan nasional mencerdaskan dan mensejahterakan kehidupan yang saat ini jumlahnya melebihi 200 juta penduduk dengan lokasi yang tersebar lebih dari seribu pulau ini, pastilah merupakan tantangan yang tidak kecil dan harus dihadapi secara tepat dan sistematis.
Bagaimana pentingnya pengembangan kewirausahaan dan pendidikan kewirausahaan bagi bangsaIndonesia kiranya dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.     Indonesia di awal abad 21 dilihat dari segi jumlah penduduk telah menjadi negara terbesar kelima di dunia, dengan sebagian besar penduduknya adalah angkatan kerja, dan sebagian dari jumlah itu adalah tenaga muda alumni Perguruan Tinggi. Jumlah penduduk yang besar tersebut bisa saja merupakan potensi apabila berkualitas baik, tetapi apabila tidak jumlah penduduk yang besar itu akan menambah bertanya beban pembangunan.
2.     Menurut penelitian, tampaknya ada korelasi antara jumlah penduduk yang berkewirausahaan dan tingkat kemakmuran suatu masyarakat. Negara yang maju memiliki wirausahawan lebih dari 6% jumlah penduduk, sedang jumlah wirausahawan Indonesia menurut penelitian tahun 1982 belum mencapai 0,5%.
  1. Telah terbukti tingkat kemajuan dan keterbelakangan suatu negara tidak terletak pada jumlah penduduk, kekayaan alam, luas wilayah, warna kulit atau suku bangsa, ataulamanya kemerdekaan yang telah dialami, tetapi adalah terletak pada kualitas manusianya.
2.        Pentingnya Pendidikan Kewirausahaan
Lulusan Perguruan Tinggi dan Tuntutan Global
Dalam usaha untuk mencerdaskan dan mensejahterakan bangsa dibutuhkan wirausaha-wirausaha yang tidak hanya berpendidikan dan berpengetahuan luas serta menguasai teknologi(Intelectual Quotion), namun juga perlu memiliki EQ(Emotional Quotion) dan SQ(Spiritual Qoution). Perguruan tinggi berperan serta dalam mensejahterakan bangsa, membangun ekonomi yang kini masih terpuruk.
Berdasarkan kondisi objektif masyarakat, khususnya Perguruan Tinggi (PT) sebagai penghasil sumberdaya manusia berkualitas, ternyata masih belum mampu menghasilkan lulusan yang siap untuk berusaha secara mandiri memulai usahanya sendiri dan bukan hanya menunggu “diberi pekerjaan” oleh industri. Hal ini di tandai dengan adanya:
  • Angka penganguran lulusan PT yang cukup tinggi
  • Kesulitan mencari kerja dengan masa tunggu yang cukup lama
  • Over supplied lulusan secara kuantitas tetapi under supplied  lulusan secara kualitas
  • Perilaku jiwa kewirausaha lulusan masih rendah
  • Relevansi lulusan dengan kebutuhan pasa kerja masih kurang
  • Kecakapan hidup rendah ditandai dengan lemahnya komunikasi verbal  dan memalui media tulis, lemahnya penguasaan bahasa asing dan lemahnya peggunaan teknologi informasi
  • Kurang mampu bersaing dengan global
  • Masih lemahnya jalinan kemitraan dengan dunia industri.
Perguruan Tinggi sebagai penghasil sumberdaya manusia berkualitas,dituntut untuk ikut serta dalam pembangunan bangsa dan negara dengan membentuk manusia-manusia yang cerdas dan berjiwa entrepreneur mempunyai keunggulan kompettitid dan komparatif sehingga bisa menang dalam persaingan global.  Pendidikan kewirausahaan harus dipandang secara luas dalam teknologi keterampilan yang dapat di ajarkan dan karakteristik yang dapat mambangkitkan motivasi para mahasiswa sehingga dapat menolong mereka untuk mengambangkan rancana baru dan rencana inovatif sebuah usaha bisnis baru.

Wirausahawan, Betapa Langkanya Profesi Ini Di Indonesia. Wisudawan Lebih Senang Menjadi Pegawai Atau Pejabat
Sungguh menarik melihat kemauan pemerintah yang akan menyumbangkan 110 miliar untuk pendidikan kewirausahaan di tahun 2009. Dengan pendidikan kewirausaan tersebut diharapkan para lulusan perguruan tinggi dapat mencetak lapangan kerja bukannya mencari lapangan kerja, karena seperti yang kita ketahui pertumbuhan lapangan kerja yang tidak sesuai dengan jumlah lulusan perguruan tinggi di Indonesia mengakibatkan sulit dan kerasnya mencari pekerjaan.
Banyak sekali para pemuda yang menenteng ijazahnya kesana kemari untuk mendapatkan pekerjaan. Tetapi sebaliknya tidak sedikit pula orang-orang yang sukses berwirausaha dengan pendidikan yang minimal, contohnya saja Adre Wongso yang mengaku Sekolah Dasar saja tidak tamat tetapi sekarang bisa menjadi motivator yang besar.
            Lalu pertanyaannya, adakah yang salah dengan pendidikan di Indonesia? Bercermin dari kenyataan bahwa Pendidikan Formal baik itu di bangku sekolah maupun Perguruan Tinggi hanya mengajarkan pada penguasaan hard skills. Seorang datang ke kelas, guru menerangkan kemudian pulang dengan membawa segepok ilmu, itupun bagai mereka yang memahami tetapi di sisi lain kita masih kebingungan bagaimana mengaitkan segepok ilmu dalam kehidupan sehari-hari.
Penelitian menunjukkan, keberhasilan seseorang bukan ditentukan oleh kepandaian yang dipunyai, tetapi oleh factor lainnya yang sangat panting. Tingkat kecerdasan cuma menyumbang sekitar 20 – 30 persen keberhasilan, selebihnya ditentukan soft skills. Penelitian National Association Colleges and Employers (NACE) pada tahun 2005 menunjukkan hal itu, dimana pengguna tenaga kerja membutuhkan tenaga kerja berupa 82 persen soft skills dan 18 persen hard skills.
Soft skills, menurut Rektor Udinus Dr. Edy Noersasongko ada tiga karakter utama yang akan dibentuk melalui pendidikan soft skills ini. Yakni kerja keras (hardwork), kemandirian (independent), serta kerjasama (teamwork). Tiga karakter utama tersebut bisa dijabarkan menuju beberapa karakter turunan. Misalnya dari karakter kerja keras dikembangkan sikap persistent, risk taking serta energetic. Adapun sikap kemandirian melahirkan karakter responsive, percaya diri dan berinisiatif. Sikap-sikap tersebut, menurut Edy sangat dibutuhkan para calon wirausahawan.
Selaras dengan kemampuan soft skills alangkah lebih baiknya lagi apabila dibarengi dengan pendidikan kewirausahaan (entrepreneurship) yang andal. Pendidikan kewirausahaan sangat perlu diajarkan sejak dari bangku Sekolah hingga Perguruan Tinggi untuk mencetak lulusan-lulusan yang produktif. Disamping pendidikan kewirausahaan seorang mahasiswa harus juga diberikan pelatihan semacam magang. Penggabungan antara teori dan praktek merupakan ilmu dan pengalaman yang tidak ternilai harganya.
Sebagai contohnya, dengan mendirikan gerai makanan, penjualan tiket, ataupun simpan pinjam. Disini para mahasiswa dapat bergantian untuk menjaga gerai tersebut selain itu setiap mahasiswa diberi motivasi semacam diberi target. Dengan begitu mereka akan merasakan bagaiamana dunia kerja yang lebih nyata, sebelum mereka mendapatkan gelar sarjana. Disinilah peran pemerintah, swasta dan dunia perbankan dalam turut serta memajukan pendidikan di Indonesia yang lebih berkualitas.

3. Pengembangan Budaya Kewirausahaan

Pendidikan kewirausahaan di Indonesia masih kurang memperoleh perhatian 
yang cukup memadai, baik oleh dunia pendidikan maupun masyarakat. Banyak pendidik yang kurang memperhatikan penumbuhan sikap dan perilaku 
kewirausahan sasaran didik, baik di sekolah-sekolah baik tingkat menengah maupun perguruan tinggi, maupun di pendidikan profesional.
Orientasi mereka, pada umumnya hanya pada menyiapkan tenaga kerja. Dari lain,secara historis masyarakat kita memiliki sikap feodal yang diwarisi dari penjajah 
Belanda, ikut mewarnai orientasi pendidikan kita. Sebagian besar anggota masyarakat mengaharapkan output pendidikan sebagai pekerja, sebab dalam pandangan 
mereka bahwa pekerja (terutama pegawai negeri sipil) adalah priyayi yang memiki status sosial cukup tinggi dan disegani oleh warga masyarakat.
            Menurut data Direktorat Jendral Pemuda dan Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Nasional dari 75.3 juta pemuda Indonesia, 6,6 persen yang lulus sarjana. Dari jumlah tersebut 82% nya bekerja pada instansi pemerintah maupun swasta, sementara hanya 18% yang berusaha sendiri atau menjadi wirausahawan. Padahal semakin banyak lulusan PT yang menjadi wirausahawan akan dapat mempercepat pemulihan ekonomi. Kewirausahaan (berpengaruh terhadap kemajuan ekonomi bangsa), misalnya Singapura, Malaysia dan Cina menjadi negara-negara yang pertumbuhan perekonomian sangat pesat karena menerapkan prinsip-prinsip entrepreneurship. Menyadari akan minimya sumber daya alam, pemerintah bersama dunia usaha sangat bergantung pada kemampuan berkreasi dan berinovasi dalam menghasilkan produk dan jasa yang berkualitas.
            Melihat kondisi tersebut, maka perguruan tinggi sudah selayaknya mampu berperan aktif menyiapkan sumber daya manusia terdidik yang mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan baik lokal, regional maupun internasional.  Maka diperlukan pendidikan berbasis kewirausahaan yaitu pendidikan yang menerapkan prinsip-prinsip dan metodologi kearah pembentukan kecakapan hidup (life skill) mahasiswanya melalui kurikulum yang terintegrasi. Pendidikan yang demikian berorientasi pada pembentukan jiwa kewirausahaan (enterpreneurship) yaitu jiwa keberanian dan kemauan menghadapi permasalahan hidup dan kehidupan secara wajar, berjiwa mandiri, tangguh dan berdaya saing, dan berjiwa kreatif untuk mencari solusi dalam mengatasi permasalahan tersebut.
            Keterpaduan yang sinergik antara penguasaan ilmu dan teknologi (termasuk kejelian menerapkannya sesuai dengan kebutuhan masyarakat), keahlian pemasaran (termasuk komersialisasi hasil penelitian dan pengembangan), keuangan (financial cost) dan manajemen produksi akan meningkatkan penciptaan dan pertumbuhan wirausaha-wirausaha baru. Selama ini para akademisi, ilmuwan, perencana maupun peneliti Indonesia yang terlalu sedikit yang menaruh minat dalam bidang kewirausahaan, sehingga mengakibatkan sebagian besar dari hasil-hasil penelitian dan pengembangan hanya bernilai akademis saja dan hanya beberapa produk penelitian yang bisa dikomersialkan dan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
            Pengembangan budaya kewirausahaan di Perguruan Tinggi dilaksanakan untuk menumbuh kembangkan jiwa kewirausahaan pada para mahasiswa dan juga staf pengajar serta diharapkan menjadi wahana pengintegrasian secara sinergi antara penguasaan sains dan teknologi dengan jiwa kewirausahaan. Tumbuh kembangnya budaya kewirausahaan di Perguruan Tinggi diharapkan bahwa hasil-hasil penelitian dan pengembangan selain bernilai akademis, juga mempunyai nilai tambah (added value) bagi kemandirian perekonomian daerah maupun nasional.. Demikian pula para lulusan Perguruan Tinggi tidak hanya berorientasi dan mampu menjadi pekerja saja, tapi juga berorientasi dan mampu bekerja mandiri, menciptakan usaha baru (start up company) dan mengelola perusahaan atau industri sendiri, yang tidak tertutup kemungkinannya menjadi industri atau perusahaan besar. Situasi ini akan membuka peluang lebih besar bagi terwujudnya Industrial Park yang telah sejak lama menjadi cita-cita di banyak Perguruan Tinggi. Dengan demikian hubungan sinergik antara pengembangan sains dan teknologi dengan penerapannya untuk kemandirian bangsa Indonesia dalam bidang teknologi dan ekonomi akan terwujud dengan dukungan penuh Perguruan Tinggi.
            Pengembangan konsep atau ide-ide yang didasarkan pada pengetahuan baru, metode-metode, desain produk dan produk-produk yang dihasilkan yang bisa dikomersiasisasikan melalui suatu wadah yang dinamakan inkubator bisnis. Jadi Inkubator bisnis merupakan suatu institusi atau tempat untuk menumbuhkembangkan usaha baru (start-up company) menjadi usaha kecil dan menengah (UKM) yang berdaya saing, tangguh dan mandiri. Jika usaha baru tersebut berbasis inovasi/teknologi maka inkubatornya disebut inkubator teknologi. Inkubator ini bertujuan untuk mengkomersialisasikan teknologi baru, transfer teknologi ke pasar atau mempercepat proses inovasi ke implementasi.

Contoh Pengembangan Budaya Kewirausahaan 

Pengembangan kewirausahaan di lingkup UNM tidak terlepas dari penciptaan budaya kewirausahaan di civitas akademikanya. Sebagai lembaga pendidikan,UNM menerapkan penanaman pola pikir, sikap dan orientasi kewirausahaan melalui pendidikan dan pengembangan kurikulum serta aktivitas kemahasiswaan yang berbasis kewirausahaan.
Lebih lanjut, strategi agar program pendidikan kewirausahaan mahasiswa ini menjadi suatu program yang berkelanjutan, maka UPT Pusat Kewirausahaan UNM telah dan sedang mengembangkan unit-unit bisnis yang berbasis wirausaha. Unit-unit bisnis ini akan menjadi tempat praktek wirausaha bagi mahasiswa peserta program kewirausahaan di lingkup UNM.
Selain itu juga sangat disadari kelancaran dan efektivitas program pengembangan kewirausahaan tidak akan berjalan baik bila tidak didukung oleh pihak lain, baik instansi pemerintah, instansi, perbankan dan masyarakat. Oleh karena itu, UPT Pusat Kewirausahaan UNM senantiasa mengembangkan kerjasama yang saling mendukung dan berkesinambungan dengan pihak-pihak tersebut.

b. Kasus

Andi berniat mendirikan perusahan yang memproduksi dan menjual kentang
goreng. Tetapi ia tidak memiliki modal yang cukup. Berdasarkan hasil observasi,modal awal yang diperlukan Andi untuk membeli bahan baku,peralatan, perlengkapan dan sewa tempat adalah Rp 20.000.000 tetapi ia hanya memiliki Rp 15.000.000. Saat  ia menceritakan niatnya pada teman-temannya, Wawan bermaksud untuk bergabung dengan Andi dan berjanji memberikan tambahan modal. Tetapi Wawan tidak memiliki pengalaman berbisnis sebelumnya dan terkenal kurang jujur. Pada saat bersamaan koperasi dimana Andi bergabung bersedia memberikan pinjaman dengan bunga 12%setahun.
Setelah berjalan selama 3 bulan. Berikut adalah laporan rugi/laba perusahaan
yang didirikan oleh Andi:

Laporan rugi/laba
106
Perusahaan “Kentang Goreng”
Untuk periode berakhir 31 Desember 2008
Pendapatan:
Penjualan 10,000,000
Harga pokok penjualan:
Persediaan awal 2,000,000
Pembelian 7,000,000
Tersedia untuk dijual 9,000,000
Persediaan akhir 3,000,000
Harga pokok penjualan 6,000,000
Laba kotor 4,000,000
Biaya operasional:
Biaya komisi 500,000
Biaya transportasi 100,000
Biaya listrik, telpon, air 1,000,000
Biaya gaji pegawai 1,200,000
Biaya penyusutan bangunan 300,000
Biaya penyusutan inventaris 200,000
Total 2,900,000

Laba operasi 1,100,000
Biaya bunga 50,000
Laba sebelum pajak 1,000,000
Biaya pajak 200,000

Laba/(rugi) bersih 450,000

Ada beberapa fakta yang berkaitan dengan bisnis kentang goreng:

1) Biaya komisi diberikan pada pemasok bahan baku.

2) Andi tidak benar-benar tahu siapa yang paling banyak menggunakan alat
elektronik dan telpon. Air paling sering digunakan untuk mencuci kentang.

3) Saat Andi memasuki bisnis ini telah ada merek “Top” yang telah lebih dahulu
terkenal dan memiliki banyak pelanggan. Outlet terdekat “Top” berjarak 100
meter dari outlet milik Andi.

4) Beberapa bulan setelah Andi memulai bisnis, muncul perusahaan lain yang
menjual produk singkong goreng yang dikemas menyerupai kentang goreng
dengan harga yang lebih murah.

5) Selama 6 bulan beroperasi, Andi telah memiliki pelanggan tetap setidaknya
100 orang yaitu para mahasiswa yang tinggal di dekat warung Andi.

6) Meski telah dilatih selama 1 minggu, 2 dari 4 karyawan masih kurang
cekatan melayani pembeli sehingga waktu tunggu pembelian yang awalnya
diperkirakan 5 menit menjadi molor 10 menit bahkan 13 menit. Selain itu
107
beberapa pelanggan mengeluhkan rasa yang tidak sama jika dilayani oleh
karyawan yang berbeda.

Pertanyaan:

1. Berdasarkan kasus di atas, jenis badan usaha apa yang sebaiknya dipilih
oleh Andi? Mengapa?

2. Berdasarkan laporan rugi/laba biaya apa yang dapat dikendalikan oleh Andi?
Cara apa yang bisa dilakukan untuk mengendalikan biaya tersebut?

3. Identifikasi persaingan apa yang dihadapi oleh Andi?

4. Bagaimana strategi memenangkan persaingan tersebut?

5. Apa cara yang dapat dilakukan oleh Andi untuk mempertahankan
pelanggan?
6. Strategi apa yang harus dilakukan oleh Andi untuk mengelola karyawannya?

SUMBER:

Alma, Buchari, Kewirausahaan, Bandung: Alpabeta, 2007.
New York: The Free Press Ian C. MacMillan. 1994.


Kamis, 12 November 2015

KONDISI WIRAUSAHA DI MASYARAKAT



 13 NOVEMBER 2015

KONDISI WIRAUSAHA DI MASYARAKAT
Di dunia,negara-negara biasa terbagi menjadi negara maju, atau negara berkembang. Negara maju adalah sebutan untuk negara yang menikmati standar hidup yang relatif tinggi melalui teknologi tinggi dan ekonomi yang merata. Contoh-contoh negara yang bisa dikatakan sebagai negara maju antara lain, Amerika Serikat, Hong Kong, Belanda, Portugal, Spanyol dan masih banyak lagi. Sedangkan Negara berkembang
adalah sebuah negara dengan rata-rata pendapatan yang rendah, infrastruktur yang relatif terbelakang, dan indek perkembangan manusia yang kurang dibandingkan dengan norma global.
Contoh Negara berkembang: Meksiko, India, Malaisya dan Indonesia.

Mengapa Indonesia masih di katakan sebagai negara berkembang? Padahal Indonesia di kenal dengan negara yang kaya akan Sumber Daya Alamnya (SDA). Karena kecendrungan negara-negara berkembang adalah ditandai dengan masyarakat yang memiliki pendapatan  perkapita lebih rendah dibandingkan negara maju dan biasanya memiliki populasi penduduk yang padat. Negara berkembang belum mempunyai kondisi ekonomi dan sosial yang makmur, kebanyakan penduduknya miskin, pemikiran-pemikiran modern belum menyusup sampai ke desa-desa, dan kemajuan teknologi masih sangat jarang mampir sampai ke desa-desa, serta banyaknya pengangguran. Melihat kondisi itu  maka Indonesia merupakan salah satu negara yang termasuk di dalamnya. Pendapatan masyarakat yang rendah dan tingkat populasi penduduk yang tinggi menjadi suatu permasalahan yang harus diatasi oleh pemerintah negara berkembang dalam upaya mensejahterakan rakyatnya. Di kota besar seperti Jakarta yang terhitung pendududknya sangat padat, keadaan seperti ini sudah menjadi pemandangan umum. Banyak orang yang hidup kurang beruntung  terpaksa hidup sebagai pemulung sampah. Karena pendapatan yang diperolehnya sangat rendah, anaknya tidak dapat disekolahkan sehingga tingkat kecerdasan anak tersebut tidak berkembang. Hal ini juga menimbulkan kesenjangan ekonomi yang tajam antara orang  yang berpenghasilan tinggi dan orang yang berpenghasilan rendah. Hal ini menyebabkan kemerosotan perekonomian di Negara Indonesia. Jika di biarkan keadaan perekonomian Negara Indonesia seperti itu terus maka semakin lama Negara akan semakin miskin dan terbelakang, serta berdampak pada keamanan nasional akan terganggu.

Maka dari itu peran kewirausahaan sangat diperlukan untuk pertumbuhan perekonomian di Indonesia. Mengapa? Ada beberapa alasan mengapa kewirausahaan dikatakan sebagai faktor yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Yang pertama, kewirausahaan dapat membuka lapangan kerja di Indonesia. Menurut data dari BKD (Badan Kepegawaian Daerah), jumlah pegawai saat ini sekitar 7.663.570 orang yang terdiri dari PNS 4.700.000 orang, guru dan dosen sekitar 2.000.000, TNI sekitar 464.000, Polri sekitar 412.000. Seperti yang kita ketahui saat ini  pertumbuhan penduduk setiap tahunnya melonjak meningkat dan lapangan kerja yang sedikit menyebabkan banyaknya pengangguran di Indonesia. Selain itu Sumber Daya Manusia (SDM) dan Sumber Daya Alam (SDA) semakin berkurang juga makin membuat melarat rakyat Indonesia. Sehingga pengangguran di Indonesia setiap tahunnya semakin bertambah pada tahun jumblahnya hampir 8,32 juta orang atau 7,14%. Penduduk Indonesia sekarang berjumblah 237,8 juta orang, adapun angkatan kerja sebanyak 1165 juta orang. Artinya orang yang bekerja berjumlah 108,2 juta. Sisanya yang belum bekerja sekitar 8,32 juta orang, itulah pengangguran. Dengan banyaknya pengangguran di Indonesia, maka tingkat kriminalitas akan meningkat. Karena semua orang ingin bertahan hidup. Jangankan pengangguran yang tidak mempunyai pekerjaan atau belum mendapat pekerjaan, bahkan pejabat-pejabat tinggi yang kita ketahui sudah mempunyai kursi yang layak, fasilitas serta gaji yang mencukupi, masih bisa melakukan tindak kriminal seperti tindak pidana pencurian yuang negara atau korupsi yang sangat amat merugikan uang negara. Karena masalah-masalah tersebut diatas dan ada batas penerimaan pegawai negri, maka sumber potensi yang bisa mengurangi pengangguran adalah menjadi profesional di berbagai organisasi dan perusahaan swasta. Misalnya di sektor pertanian, industri, bidang jasa. Ruang lain yang terbuka bagi penganggur adalah menjadi pekerja pembangunan infrastruktur jalan, bandara, pelabuhan, perumahan, pembangkit listrik. Potensi terakhir dan sangat membantu menyerap tenaga kerja baru adalah wirausaha. Maka di butuhkanlah adanya seorang wirausahawan, dengan adanya 1 wirausahawan di Indonesia maka akan mengurangi sedikit dari 8,32 juta orang itu bagaimana jika tenaga kerja swasta atau wirausaha dan tenaga kerja negri bisa seimbang tidak heran jika suatu saat Indonesia dapat mengatasi masalah pengangguran di negaranya.

Kewirausahaan juga memiliki peranan penting untuk menjadikan masyarakat lebih kreatif dan mandiri. Di Indonesia sendiri jumlah wirausahawan adalah sebesar 19,3% dari jumlah total penduduk dewasa. Dengan adanya kewirausahaan masyarakat dapat mempunyai kemampuan untuk  menciptakan dan menyediakan produk yang bernilai tambah atau inovasi-inovasi yang baru sehingga dapat menjadikan masyarakat lebih kreatif dalam menyampaikan ide-ide dan kreasinya, mereka bisa menciptakan barang yang dirasa perlu dan penting untuk kesejahteraan masyarakat itu sendiri sehingga tidak perlu menimpor dari luar negeri. Selain itu masyarakat tidak tergantung dengan pemerintah seperti tenaga kerja negri (PNS) yang masih di gaji oleh pemerintah, bahkan seorang wirausaha akan mendatangkan omset yang akan di berikan ke negara melalui pajak. Secara tidak langsung kesejahteraan ekonomi masyarakat bisa stabil.
Alasan ketiga mengapa wirausaha berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia adalah  menarik invesrtor asing untuk berinverstasi atau menanamkan modalnya di Indonesia. Satu kekurangan dari negara maju seperti contohnya negara Amerika yang berinvestasi di Indonesia. Dengan adanya investor asing seperti itu maka akan dapat menambah devisa negara. Selain itu wirausaha dapat mendorong meningkatnya sector pariwisata di Indonesia.

Contohnya:  Seorang wirausaha membuka usaha pembangunan hotel di dekat pantai Lovina, Daerah Buleleng, Bali. Dengan adanya hotel di depan pantai Lovina maka akan mengundang para turis asing untuk mengunjungi pantai Lovina selain karena devisa negara akan bertambah, si wirausahawan akan membayar pajak dari jumlah pendapatan yang dia peroleh dari usahanya membangun hotel.
            Itulah mengapa wirausaha di katakan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di Inonesia. Tapi ada beberapa kendala yang dialami oleh wirausahawan yaitu biasanya yang menjadi kendala utama orang takut untuk membuka usaha atau berwirausaha di karenakan mereka tidak mempunyai cukup modala untuk berwirasaha. Tapi untuk mengatasi hal itu pemerintah telah mempogramka untuk rakyat kecil peminjaman modal melalui bank dan program UKM (Usaha Kecil Menangah). Melalui program ini bukan hanya masyarakat yang pempunyai moda besar yang bisa membuka usaha, tapi masyarakat kecil juga bisa. Dengan UKM ini bisa mengurangi pengangguran juga sehingga kemiskinan di Indonesia semakin membaik. Dan program ini telah berjalan sangat baik dan membantu perekonomian di Indonesia dan kesejahteraan rayat Indonesia.

SUMBER: 23.
Griffin, RW. Dan Ebert, RJ., Binis (Jilid 1), Jakarta:Prehallindo, 1997.
Mas’ud & Mahmud, Kewirausahaan, Yogyakarta:BPFE, 2005.

Impian Diri Seorang Wirausaha



JUM’AT 13 NOVEMBER 2015

IMPIAN DIRI SEORANG WIRAUSAHA

Posted by ANISA PUTRI UTAMI

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjC68ObzwlY4Vg8b3B87tKQeUVj0vuwER0CxYnTOzLvSW2vwPVNqVSiMKiMvonQlL4P5vqYjD6ltOMm2W3UmAl3w8lfqH90qNGgpDyr6KolEPtma1QKOLfyif8woDnBDXh5KMXe9oYWbNU/s1600/wirausaha+sukses.jpg

Menjadi seorang wirausaha sukses merupakan salah satu impian besar dan cita-cita bagi sebagian masyarakat di Indonesia. Banyak contoh profesi yang sangat menjanjikan seperti halnya seorang dokter, insinyur, akuntan, pengacara mendapatkan posisi yang besar dalam keinginan masyarakat pada umumnya di indonesia. Namun jika dilihat kenyataan pada saat ini, sudah melai bergeser secara berlahan-lahan.

Di indonesia ada yang membuat wirausahawan menjadi panik saat memulai berusaha yaitu dengan cara pengelihatan mereka yang  seringkali salah mengenai pemahaman mereka tentang memulai berwirausaha. Saking banyaknya yang berpendapat jika wirausaha kini, membutuhkan modal yang sangat besar tapi tidak setiap bulannya kita bisa mendapatkan untung yang besar. Juga banyak yang berpendapat jika berwirausahaan membutuhkan waktu yang lama dan lebih baik menjadi pekerja kantoran saja. Itu adalah pendapat buruk tentang berwirausahaan yang kini menjedi momok masyarakat untuk berwirausaha.

hal yang tidak benar tersebut lebih baik dibuang jauh jauh dari pikiran kita hingga hanya ada suatu pandangan positif saat kita memikirkan untuk menjadi seorang wirausaha. Banyaknya masyarakat yang beranggapan jika bekerja di sebuah perusahaan sudah tentu akan mencukupi kebutuhan hidupnya, dan juga mereka juga tidak perlu menyiapkan modal untuk memulainya. Tapi jika perusahaan tersebut adalah perusahaan kolap maka mereka tidak mau menanggung beban yang besar baik mental dan materi.

Itu adalah momok wirausaha yang mengakibatkan banyaknya masyarakat indonesia lebih memilih untuk menjadi pekerja kantoran dan tidak memilih untuk mendirikan suatu usaha sendiri. Memang benar jika dipikir secara logis alasan tersebut dapat diterima tapi mungkin lebih menyenangkan lagi
jika anda telah menemukan titik terang berwirausaha sendiri..

Suatu keyakinan adalah modal yang besar dan wajib anda miliki jika anda menginginkan untuk mendalami lebih dalam bidang kewirausahaan. Dan anda harus siap menghadapi suatu permasalahan yang menghalangi usaha anda. Atau mungkin saat masalah itu memang terjadi berarti anda harus tetap sabar saat menyelesaikannya.

Jika kita mengalami ketakutan dalam berwirausaha atau wiraswasta sebenarnya sangatlah tidak cukup beralasan. Di era saat ini yang sudah mengalami perubahan serba cepat, membuka atau mendirikan usaha sendiri sangatlah mudah. Tidak lagi membutuhkan suatu modal yang sangat besar, sewa tempat untuk kantor dengan pengeluaran biaya sewa yang mahal, ataupun melakukan sewa iklan yang dicetak ribuan lembar.

Yang dibutuhkan hanyalah kemampuan akan komputer dasar dan tau akan pemahaman sebuah internet. Menjalani sebuah usaha di dunia maya bisa anda jalankan karena memiliki dampak nyata di kehidupan anda. Bisa dikatakan, usaha di jaman sekarang bisa anda lakukan secara online ataupun dalam sebuah jaringan internet.

Di sini, tentunya anda pasti bertanya-tanya bagaimana cara untuk memulainya? karena bisnis yang dilakukan secara online termasuk suatu bisnis yang baru dikenal oleh masyarakat di Indonesia. Banyak sekali akan keregu-raguan dalam pikiran, bagaimana bisa kita mendapatkan uang dari dunia maya tersebut?. Wajarlah jika kita bertanya seperti itu, mengingat anda belum mengenal akan gambaran prosesnya. Kerugian yang sudah menghantui serta bagaimana mendapatkan keuntungan sudah menjadi pertanyaan besar di pikiran anda.

SUMBER:
Suryana, Kewirausahaan: Pedoman praktis kiat dan proses menuju sukses, Jakarta:
Salemba Empat, 2006.